Nasehat dan marah adalah 2 kata
yang berbeda tetapi mempunyai arti yang hampir sama. Mengapa dikatakan hampir
sama? Karena kedua kata itu biasanya muncul setelah anak melakukan kesalahan.
Jika anak berbuat kesalahan maka yang
muncul adalah nasehat atau marah.
Hampir semua orang tua pernah
menasehati anaknya dan juga pernah memarahi anaknya. Tentu saja banyak alasan
orang tua menasehati dan memarahi anaknya, entah karena anaknya nakal, bandel,
melawan bisa juga demi kebaikan anaknya sehingga orang tua sampai memarahi
anaknya.
Tapi sebagai orang tua hendaknya
berhati – hati dalam memarahi anak. Setelah dimarahi anak jadi patuh dan nurut
ataukah justru malah menentang? Untuk lebih jelasnya mari kita simak uraian
berikut;
1. Amati Perilaku Anak
Perhatikan perilaku anak secara
cermat ketika ia melakukan kesalahan. Apa alasan seorang anak melakukan
kesalahan? Apakah anak tidak paham perintah ataukah anak ingin mendapat
perhatian dari orang tuanya.
Anak sering tidak paham perintah
terutama anak yang masih kecil. Misal orang tua melarang anaknya bermain pisau karena berbahaya, tetapi karena
si anak belum mengerti ia tetap melakukannya. Sebagai orang tua sebaiknya tidak
hanya melarangnya, tapi memberikan penjelasan yang baik dan menjauhkan benda
tersebut dari jangkauan anak.
Seorang anak biasanya melakukan
kesalahan karena ingin mendapat perhatian dari orang tuanya. Mungkin karena
orang tuanya terlalu sibuk sehingga si anak kurang mendapat perhatian. Solusi
untuk permasalahan tersebut adalah memberikan perhatian yang khusus agar si
anak bisa merespon keinginan kita. Sesibuk apapun luangkan waktu untuk bercanda
dengan si buah hati.
2. Beri Kepercayaan
Dengan memarahi anak dapat
mengubah perilaku anak, tapi perubahan yang terjadi mungkin karena keterpaksaan
dan ketakutan. Akan lebih baik jika perubahan perilaku tanpa didahului dengan
kemarahan.
Ada saatnya seorang anak ingin
mangambil keputusan sendiri, misalnya memilih baju yang akan dipakai, membeli
makanan kesukaan, memilih teman bermain. Untuk itu berilah kepercayaan kepada
anak dengan menghargai kelebihan dan
menerima kekurangan.
Dengan memberi kepercayaan kepada
anak akan membuat ia lebih berhati – hati dalam bersikap, ia akan lebih mudah
diarahkan dan lebih nurut. Ia juga akan merasa dihargai dan bertanggung jawab
atas kepercayaan yang diberikan orang tuanya.
3. Beri Penghargaan
Seorang anak yang biasa dimarahi
akan terbiasa dan kebal, ia akan melakukan hal yang sama kepada teman –
temannya. Si anak akan menganggap marah adalah salah satu cara untuk
menyelesaikan masalah. Ia juga akan melakukan sesuatu yang orang tua inginkan
setelah ia dimarahi.
Berikan sanksi jika anak
melakukan kesalahan dan berikan juga penghargaan kepada anak jika ia melakukan
kebaikan. Dengan begitu si anak akan tahu apa yang akan diterima dari setiap
perbuatannya. Ia akan tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus
ditinggalkan.
4. Kasih Sayang Agar tidak
Menentang
Perlu diketahui oleh orang tua,
bahwa seorang anak dapat memperlihatkan sikap menentang, sikap tidak mau
menerima saran dan nasehat orang tua. Hal ini bisa disebabkan oleh pengaruh
dari luar dirinya atau adanya faktor psikologis.
Faktor yang menjadi penyebab anak
menentang diantaranya adalah orang tua yang menekan dan menuntut terlalu
berlebihan, hubungan anak dan orang tua yang kurang harmonis, orang tua yang
kurang memahami kebutuhan dan keinginan anak, pengaruh pergaulan anak dengan
teman – temannya dan lain sebagainya.
Berikan kasih sayang yang tulus
pada anak kita , agar anak kita juga menjadi pribadi yang penyayang. Karena seorang
anak anak meniru sikap dan kebiasaan orang tuanya.
5. Ajak Kerjasama
Anak yang sering menentang orang
tua memiliki tingkat kepercayaan yang rendah terhadap orang tuanya karena ia
merasa kurang dihargai dan kurang diperhatikan.
Seorang anak yang sering diajak
kerjasama oleh orang tuanya biasanya memiliki perilaku yang santun, hangat,
ramah, percaya diri, mudah bergaul, dan berani mengeluarkan pendapatnya.
Kesimpulannya adalah sebagai
orang tua boleh saja memarahi anaknya apabila berbuat kesalahan. Tapi perlu
diketahui juga apa alasan anak kita berbuat demikian. Marahlah untuk mendidik
anak kita, marahlah kepada anak kita jika sudah keterlaluan untuk mengajarkan
kebaikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar